Mengapa Tanah Mulai Tidak Subur Dan Cara Siswa Mengatasinya

Admin/ Februari 26, 2026/ BERITA, Pendidikan

Kualitas lahan pertanian di wilayah Jawa Tengah, khususnya di sekitar Purworejo, sedang mengalami penurunan yang cukup signifikan akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis yang berlebihan selama puluhan tahun. Menyadari kondisi lingkungan yang kian kritis, para siswa di SMA 1 Purworejo melakukan sebuah riset mendalam untuk menjawab pertanyaan mengenai penyebab Tanah Mulai Tidak Subur di daerah mereka. Kerusakan struktur tanah dan hilangnya mikroorganisme baik menjadi fokus utama yang mereka teliti, demi mengembalikan kejayaan agraris wilayah tersebut melalui metode yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi ekosistem lokal.

Dalam temuan riset mereka, siswa SMA 1 Purworejo menjelaskan bahwa fenomena Tanah Mulai Tidak Subur terjadi karena penumpukan residu kimia yang membuat tanah menjadi keras dan memiliki tingkat keasaman (pH) yang tidak seimbang. Untuk mengatasinya, para siswa menginisiasi gerakan pembuatan pupuk bokashi dan nutrisi tanaman organik yang memanfaatkan limbah rumah tangga serta kotoran ternak yang melimpah di sekitar sekolah. Mereka melakukan uji coba langsung di lahan praktek sekolah untuk membuktikan bahwa pemulihan kesuburan tanah bisa dilakukan dengan cara mengembalikan bahan organik ke dalam bumi secara konsisten dan terukur.

Langkah konkret yang diambil untuk melawan kondisi Tanah Mulai Tidak Subur ini juga melibatkan edukasi kepada para petani lokal di sekitar SMA 1 Purworejo. Siswa secara aktif membagikan bibit mikroorganisme lokal (MOL) hasil pembiakan mereka sendiri di laboratorium biologi sekolah kepada masyarakat. Mereka mendemonstrasikan bagaimana penggunaan pupuk hayati dapat memperbaiki pori-pori tanah sehingga kemampuan tanah dalam menyimpan air meningkat drastis. Inisiatif ini bukan hanya soal menyelamatkan tanaman, tetapi juga soal mengedukasi generasi tua mengenai pentingnya menjaga warisan tanah agar tetap produktif untuk generasi mendatang.

Keberhasilan program pemulihan lahan yang dilakukan oleh siswa SMA 1 Purworejo ini mulai terlihat dari kembalinya populasi cacing tanah dan meningkatnya hasil panen sayuran di kebun sekolah tanpa ketergantungan pada bahan kimia. Mereka membuktikan bahwa meskipun Tanah Mulai Tidak Subur, harapan untuk pulih selalu ada jika manusia mau mengubah pola pikir dari pertanian eksploitatif menjadi pertanian regeneratif. Kegiatan ini secara tidak langsung juga mengasah kemampuan analisis sains dan kepedulian sosial para siswa terhadap masalah nyata yang dihadapi oleh komunitas mereka sehari-hari di pedesaan yang kental dengan budaya agraris.

Share this Post