Masalah Rendahnya Minat Baca Buku Akibat Arus Video Pendek TikTok

Admin/ Maret 24, 2026/ BERITA, Pendidikan

Dunia literasi remaja saat ini sedang mengalami pergeseran drastis yang mengkhawatirkan, di mana Masalah Rendahnya Minat baca buku semakin nyata akibat dominasi konsumsi konten visual instan. Media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels menawarkan informasi dalam durasi kurang dari 60 detik, yang secara perlahan mengubah cara kerja otak siswa dalam memproses data. Remaja kini lebih terbiasa dengan rangsangan dopamin cepat dari video pendek daripada ketekunan yang dibutuhkan untuk menyelami halaman demi halaman sebuah buku teks atau sastra yang membutuhkan konsentrasi mendalam.

Secara kognitif, Masalah Rendahnya Minat baca ini berdampak pada pendangkalan daya nalar dan kemampuan analisis. Membaca buku menuntut imajinasi aktif dan pemahaman struktur bahasa yang kompleks, sementara video pendek menyajikan informasi yang sudah dikunyah dan disederhanakan. Akibatnya, banyak siswa SMA yang kesulitan memahami teks panjang atau soal cerita yang membutuhkan logika deduktif. Mereka cenderung mengalami “kelelahan mental” saat dihadapkan pada bacaan yang tidak memiliki unsur visual yang mencolok, yang pada akhirnya menurunkan kualitas literasi nasional kita di tingkat internasional.

Dampak dari Masalah Rendahnya Minat baca ini juga merembet pada kemampuan menulis dan kosa kata siswa. Pengguna aktif video pendek cenderung menggunakan bahasa gaul yang terbatas dan struktur kalimat yang tidak baku dalam tugas-tugas sekolah. Literasi bukan hanya soal mengeja kata, melainkan soal memahami konteks dan membangun argumen yang sistematis. Jika tren ini terus berlanjut tanpa intervensi, kita akan memiliki generasi yang “cepat tahu” namun “dangkal paham”, sebuah risiko besar bagi masa depan akademik dan profesional mereka yang menuntut ketelitian serta kedalaman berpikir.

Sekolah harus kreatif dalam mengatasi Masalah Rendahnya Minat baca dengan melakukan digitalisasi perpustakaan dan mengintegrasikan platform baca digital yang menarik. Guru dapat memberikan tugas yang mewajibkan referensi dari buku fisik untuk melatih kembali fokus siswa. Selain itu, kampanye “jam baca tanpa gawai” di lingkungan sekolah perlu digalakkan agar siswa kembali menemukan kenikmatan dalam membaca secara tenang. Peran orang tua juga sangat krusial untuk memberikan teladan membaca di rumah daripada sekadar bermain ponsel di depan anak-anak mereka.

Share this Post