Pemberdayaan Literasi dan Numerasi di Sekolah Menengah Atas
Literasi dan numerasi adalah dua fondasi kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap siswa, terutama di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), karena keduanya merupakan modal utama dalam menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan tantangan kehidupan pascasekolah. Keduanya bukan sekadar kemampuan membaca atau berhitung dasar, melainkan kemampuan menganalisis informasi kompleks dan menggunakan data kuantitatif untuk memecahkan masalah. Oleh karena itu, Pemberdayaan Literasi dan numerasi secara berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Menurut hasil Asesmen Nasional (AN) yang dirilis oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) pada awal tahun 2024, ditemukan bahwa rata-rata skor literasi dan numerasi siswa SMA masih memerlukan peningkatan signifikan, terutama pada aspek penalaran tingkat tinggi.
Strategi pertama dalam Pemberdayaan Literasi adalah mengintegrasikan kegiatan membaca dan menganalisis teks di semua mata pelajaran, bukan hanya Bahasa Indonesia. Literasi yang dimaksud adalah kemampuan siswa memahami, mengevaluasi, dan merefleksikan beragam jenis teks (fiksi, nonfiksi, digital) untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Misalnya, di SMAN 11 Yogyakarta, guru mata pelajaran Ekonomi mewajibkan siswa membaca dan menganalisis laporan tahunan (annual report) dari perusahaan publik setiap bulan, terhitung sejak 10 Oktober 2025. Siswa diminta mempresentasikan temuan utama dari laporan tersebut, yang secara langsung melatih kemampuan mereka dalam memahami teks ekonomi yang padat dan kompleks.
Sementara itu, penguatan numerasi berfokus pada kemampuan siswa menggunakan konsep matematika dalam berbagai konteks. Numerasi tidak hanya ada di Matematika, tetapi juga di Fisika, Kimia, bahkan Geografi. Untuk meningkatkan numerasi, sekolah perlu mengubah metode pengajaran dari hafalan rumus menjadi studi kasus berbasis data. Sebagai contoh konkret, di SMA Taruna Bhakti, tim guru numerasi yang diketuai oleh Ibu Astri Damayanti, S.Pd., bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup setempat untuk menyelenggarakan proyek “Analisis Data Kualitas Udara” pada bulan November 2025. Siswa ditugaskan mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data statistik polusi udara menggunakan grafik dan analisis tren, yang secara praktis melatih penalaran kuantitatif mereka.
Strategi ketiga dalam Pemberdayaan Literasi dan numerasi adalah menciptakan lingkungan yang kaya sumber daya. Hal ini mencakup revitalisasi perpustakaan sekolah menjadi “Pusat Sumber Belajar” yang dilengkapi dengan buku cetak, jurnal digital, dan akses ke platform numerasi interaktif. Penting juga adanya peran aktif dari pihak keamanan sekolah. Untuk menjamin kondusifitas area belajar mandiri di perpustakaan, Bapak Heru Subagyo, petugas keamanan sekolah SMAN 8 Bandung, bertugas memastikan ruang baca tenang dan kondusif setiap hari Senin sampai Jumat hingga pukul 16.30 WIB. Dengan adanya dukungan lingkungan, kolaborasi antarmata pelajaran, dan fokus pada aplikasi praktis, siswa SMA akan memiliki fondasi literasi dan numerasi yang kuat, menjadikan mereka pembelajar seumur hidup yang cakap dalam menganalisis informasi di era digital.
